Rabu, 02 April 2014

            PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA
          DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
  Jl. Balai Kota No. 6 Telp. (0408) 321365-322735
                                                                        Kendari (93111)
           

KEPUTUSAN
KEPALA DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
  NOMOR :

TENTANG
PANITIA PELAKSANA UJIAN AKHIR SEKOLAH (U.A.S) SPP NEGERI WAWOTOBI
TAHUN AJARAN 2013/2014

Menimbang                :   a.     bahwa untuk untuk kelancaran dan tertibnya pelaksanaan Ujian      akhir Sekolah TA.2013/2014  pada Sekolah Pertanian         Pembangunan dipandang perlu membentuk suatu panitia;
    b.     bahwa mereka yang tercantum namanya pada lampiran Surat Keputusan ini di anggap mampu untuk menyelenggarakan Ujian Akhir TA. 2013/2014 di SPP Negeri Wawotobi;
    c.     bahwa yang namanya tercantum dalam surat keputusan ini dipandang perlu untuk ditetapkan surat keputusan Kepala       Dinas Pertanian dan Peternakan

Mengingat                :    1.     Undang-Undang No 17. Tahun 2003 tentang Keuangan Negara                  (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47,, Tambahan Lembaran            Negara Nomor 4286);
   2.     Undang-Undang No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharan             Negara (lembaran Negara Tahun 2004 Nomor. 5, Tambahan            Lembaran Negara Nomor 4355);
   3.     Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan dan       Tanggung Jawab Keuangan Negara ( Lembaran Negara Tahun      2004) Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4400);
   4.     Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan        Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah           (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran             Negara Nomor 4438);
   5.     Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013       (Lembaran Negara Republik Tahun 2012 Nomor 228, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5361);
   6.     Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah    Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran           Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
   7.     Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang            Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran   Negara Republik Indonesia Nomor 4816);
   8.     Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,        Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementrian   Negara Republik Indonesia Juncto Peraturan Presiden Nomor 62       Tahun 2005;
                                   




9. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4212) Juncto Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 2004 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4418);
                                    10.  Keputusan Menteri Pertanian Nomor 412/KPTS/OT.210/7/2001 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikian Menengah di Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP);
                                    11. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 92/KPTS/TU.110/K/12/03 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Hasil Belajar Siswa Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP);
                                    12. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dan Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Pertautan Pelaksanaanya;
                                    13. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan sebagaima telah di ubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.07/2012;
                                    14.  Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 124/PERMENTAN/OT.140/12/2013 tentang Pelimpahan Wewenang kepada Gubernur dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun       Anggaran 2014;
                                    15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
                                    16.  Keputusan Kepala Badan Pendidikan Latihan Penyuluhan Pertanian Nomor:140/SK/DL.210/6/1994, tentang Penetapan Silabi Program Studi SPP;
                                    17. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor 4 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata kerja Dinas Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2008 Nomor 4) sebagaimana telah di ubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2012 Nomor 11).


Memperhatikan        :      1.  DPA – SKPD Dinas Pertanian dan Peternakan Sultra T.A  2014

MEMUTUSKAN



Menetapkan               :
Pertama                      :    Membentuk panitia pelaksanaan Ujian Akhir
TA. 2013/2014 pada Sekolah Pertanian Pembangunan ( SPP )  Negeri Wawotobi dengan susunan keanggotaan sebagaimana tercantum  pada lampiran Surat Keputusan ini.
                                          
Kedua                         :   Panitia sebagaimana diktum kesatu di atas mempunyai tugas sebagai        berikut :
1.         Menyampaikan pada guru bidang studi untuk membuat dan menyetor soal Ujian Akhir pada batas waktu yang telah ditentukan
2.         Menyiapkan alat dan bahan untuk kebutuhan Ujian Akhir
3.         Menyiapkan / menata ruangan/ tempat pelaksanaan ujian.
4.         Menciptakan suasana / situasi aman,tenang dan tertib selama pelaksanaan ujian.
5.         Mengumpul / mengecek persyaratan administrasi peserta ujian.
6.         Menggandakan dan mendistribusikan soal Ujian Akhir.
7.         Menyampaikan laporan hasil pelaksanaan Ujian Akhir.
8.         Mengumumkan hasil Ujian Akhir, setelah mendapat pengesahan dari Pusat Pengembangan Pendidikan Pertanian
9.         Melaksanakan Pengawasan Silang.






                                                     
Ketiga                         :     Dalam melaksanakan tugas panitia sebagaimana diktum kesatu di                                     atas bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah.

Keempat                    :   Panitia Ujian Akhir dinyatakan berakhir masa tugasnya setelah       pelaksanaan Ujian Akhir  T.A 2013/2014 selesai seluruhnya dengan       menyampaikan Laporan Hasil Pelaksanaan Ujian Akhir

Kelima                        :     Keputasan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dengan                                                           ketentuan apabila terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan                                                     diperbaiki sebagaimana mestinya.



Ditetapkan di   : Kendari
Pada Tanggal  :   
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan
Provinsi Sulawesi Tenggara





Ir. H. MUHAMMAD NASIR, MS
 Pembina Utama Madya Gol.IV d
    NIP. 19590626 198503 1 022







Salinan keputusan ini disampaikan kepada Yth :
  1. Kementerian Pertanian;
  2. Gubernur Sulawesi Tenggara;
  3. Kepala Pusat Pendidikan, Standarisasi dan Sertifikasi Profesi Pertanian;
  4. Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Sulawesi Tenggara;
  5. Inspektur Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara;
  6. Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharan Negara Kendari;
7.       Yang bersangkutan untuk dilaksanakan;
























Lampiran : Keputusan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi            Sulawesi Tenggara Tentang Ujian Akhir Sekolah  SPP Negeri Wawotobi      Tahun Pelajaran 2013/2014
                        Nomor:                :
                        Tanggal  :

SUSUNAN PANITIA UJIAN AKHIR SEKOLAH TA. 2013/2014
SEKOLAH PERTANIAN PEMBANGUNAN (SPP) NEGERI WAWOTOBI

Pengarah                              :  Ir. H. MUHAMMAD NASIR, MS
Ketua Umum                                    :  Ir. SAHRUDDIN, M.Si
Sekretaris                              :  IKHWAL, STP, M.Sc
Wakil Sekretaris                   :  MAKMUR SYAM, A.Md.Pi., SP
Bendahara                            :  SURIYANTI HENDRIYANI, SP

1.     PENYUSUN NASKAH DAN PENGGANDAAN SOAL UJIAN AKHIR
Ketua                            : AMSYAH, SE
Sektretaris                    : ANDI WINDI INDRAWATI, STP
Anggota                       :


1.     AGUS SUPARMAN
2.     HASNIATI, S.Si




2.     PENGAWAS UJIAN & PEMERIKSA HASIL UJIAN

Ketua                            : HASWATI, S.Pd
Sektretaris                    : NANCY LUKITASARI, SE
Anggota                       :


1.     ANDI WINDI INDRAWATI, STP
2.     HASNIATI, S.Si
3.     SAHARNI, S.Pd
4.     DIAN BAYU RINI, S.Pd
5.     IKHWAL, STP.,M.Sc
6.     UDDIN , SP
7.     AGUS SUPARMAN
8.     MUHTAR,A.Ma
9.     AGUSTINA REKO, A.Md
10.  PITER RURA, A.Md
11.  KADEK YOGIARTA, S.Pd.H
12.  TASMAN S HARIS, SE., M.Si
13.  AMSYAH, SE
14.  SURYANTI HENDRIAYANI, SP
15.  KENEDY. T, SE
16.  ABD. WARIS, SP
17.  MURDIYOKO, SP
18.  DIYAH ARDIYATI, SP
19.  HARMAWATI, SP
20.  ASRIFUL PAGALA

           



           



3.     PERLENGKAPAN, AKOMODASI, KONSUMSI DAN KEAMANAN
Ketua                            : MISNAINI, S.Sos
Sekretaris                     : RUMIAH, S.Sos
Anggota                       :


1.     ANDI RIANTI TEKAKA. S.Sos                     
2.     SAPIUDDIN
3.     JAFAR MADIAN                                         
Ditetapkan di   : Kendari
Pada Tanggal  :   
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan
Provinsi Sulawesi Tenggara



Ir. H. MUHAMMAD NASIR, MS
 Pembina Utama Madya Gol.IV d
    NIP. 19590626 198503 1 022














Review Jurnal “     KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN DAN                                              LINGKUNGAN BISNIS SEBAGAI FAKTOR                                                    PENENTU PERTUMBUHAN USAHA
(Studi IKM di Sentra Kerajinan Rotan Amuntai Kab. Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan)
Edwin Cahya Ningrum Setyawati

Mata Kuliah

“ETIKA DAN LINGKUNGAN BISNIS”





OLEH :
MAKMUR SYAM
STB. B2B1 14 005

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS HALU OLEO
2014


Abstract
            The purpose of this research is to know the characteristic of enterpreneurial business owners, conditions of business environment and the role of the business environment in the development of industries of rattan furniture, rattan weaving and lampit in Amuntai HSU, South Kalimantan. Population in this research is all businesses in Rattan Crafts Center in Amuntai HSU South Kalimantan. Sample in this research is taken using purposive and snowbal sampling. Data collecting is done by interview, observation and documentation methods. The result showed that enterpreneurship characteristics owned by the business owners are attitude of product innovation and authenticity, the willingness to take risk in having produc diversity, and strong leadership in having harmonious relations with employees. The business owners have not yet had an attitude toward duties and maximum profit results within the internal and external business environment. Furniture and webbing rattan producers should be able to build duty-oriented attitude and an attitude towards maximum profit. They need to also be a risk-taker and a leader in facing the challenges of business world within internal and external business environment.
Intisari
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik kewirausahaan pemilik usaha, kondisi lingkungan bisnis dan peran lingkungan bisnis dalam pertumbuhan industri kerajinan mebel rotan, anyaman rotan dan lampit rotan di Amuntai HSU, Kalimantan Selatan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelaku usaha di Sentra Kerajinan Rotan di Amuntai HSU Kalimantan Selatan. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan cara Purposive sampling dan Snowbal sampling. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kewirausahaan yang dimiliki pelaku industri mebel adalah sikap keorisinilan dalam inovasi produk, pengambilan risiko untuk melakukan diversifikasi produk dan kepemimpinan dalam membangun hubungan yang harmonis dengan karyawan namun belum memiliki sikap orientasi tugas dan hasil terhadap profit yang maksimal. Kondisi dan Peran lingkungan bisnis yang terdapat dalam usaha ini meliputi lingkungan bisnis internal dan eksternal. Perajin mebel dan anyaman rotan harus mampu membangun orientasi tugas dan hasil paska laba yang maksimal, pengambilan risiko, memiliki perilaku sebagai seorang pemimpin dalam menghadapi tantangan dunia bisnis yang diselaraskan dengan lingkungan internal dan eksternal bisnis.
PENDAHULUAN

Salah satu sentra kerajinan rotan terbesar di daerah Kalimantan terpusat di Provinsi Kalimantan Selatan yaitu daerah di kota Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Barangbarang tradisional yang biasa diproduksi di kota ini berupa kerajinan fungsional khas desa, seperti alat tangkap ikan tradisional lukah dan jambeh, nyiru, tanggui (caping khas banjar), lanjung (tas khas dayak), dan takitan (bakul untuk panen), kerajinan tikar, topi, kipas, dan anyaman lainnya. Sedangkan produk kerajinan bergaya modern didominasi oleh kerajinan berbahan baku rotan, seperti lampit, kotak tisu, kursi malas, sketsel pintu, dan beraneka jenis anyaman lainnya.
            Dilihat dari perkembangan Industri rotan pada tahun 2009-2010, sentra industri kerajinan rotan kota Amuntai HSU Kalsel terdapat fluktuasi pertumbuhan usaha, dimana terdapat industry kerajinan mebel dan anyaman rotan yang mengalami pertumbuhan unit usaha dan tenaga kerja namun tidak dibarengi dengan adanya pertumbuhan nilai produksi. Berarti terdapat suatu masalah didalamnya yang menyebabkan pertumbuhan nilai produksi dari dua jenis industry kerajinan rotan tersebut tidak meningkat. Sedangkan bagi industri kerajinan lampit rotan terjadi pertumbuhan nilai produksi yang sangat signifikan namun tidak terjadi pertumbuhan unit usaha dan tenaga kerjanya. Harapannya sebuah industri dapat mencapai suatu pertumbuhan usaha secara menyeluruh baik dalam hal peningkatan nilai produksi, pertumbuhan tenaga kerja, asset dan lainnya.

TUJUAN DAN FENOMENA EMPIRIS
            Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik kewirausahaan pemilik usaha, kondisi lingkungan bisnis dan peran lingkungan bisnis dalam pertumbuhan industri kerajinan mebel rotan, anyaman rotan dan lampit rotan di Amuntai HSU, Kalimantan Selatan.
            Karakteristik Kewirausahaan merupakan kualitas atau sifat yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi, suatu objek, suatu kejadian, intergrasi atau sintesis dari sifat-sifat individual dalam bentuk suatu atau kesatuan dan kepribadian seseorang, dipertimbangkan dari titik pandangan etis dan moral. Sementara sikap kewirausahaan adalah sikap seseorang yang mempunyai n-ach yang tinggi dari kehidupan sehari-hari atau ciri-ciri sikap seorang wirausaha (Faisal, 2002).

TEORI DAN PENELITIAN TERDAHULU

            Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritasmerupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.
Kinerja UKM didukung oleh karakteristik kewirausahaan dan sikap kewirausahaan yang yang dimiliki oleh  pengusaha. Semua itu merupakan hakekat dari kewirausahaan yang harus ada pada UKM. Kao et al. (dalam Saiman, 2009) mengatakan bahwa kewirausahaan adalah usaha untuk menciptakan nilai melalui kesempatan bisnis manajemen, pengambilan risiko yang tepat dan melalui keterampilan komunikasi dan manajemen untuk memobilisasi manusia, uang dan bahan-bahan baku atau sumber daya lain yang diperlukan untuk menghasilkan proyek supaya terlaksana dengan baik. Untuk melaksanakan proyek dengan baik diperlukan karakteristik dan sikap kewirausahaan yang mendukung sehingga usaha yang dilakukan berjalan dengan lancar.
            Dalam kenyataannya, perusahaan itu merupakan sebuah produk dari beberapa lingkungan. Sedangkan untuk mempertahankannya, perusahaan harus dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang berubah-rubah. Lingkungan merupakan segala sesuatu yang berada di luar organisasi (Robbins, 1994). Lingkungan tidak sebatas lingkungan, namun terdapat lingkungan eksternal, lingkungan industri dan lingkungan internal. Lingkungan eksternal terdiri dari unsurunsur yang berada di luar organisasi, yang relevan terhadap kegiatan organisasi itu (Stoner, 1996). Lingkungan industri memiliki pengaruh yang lebih langsung terhadap daya saing strategis dan laba di atas rata-rata. Intensitas persaingan industri dan potensi laba industri merupakan fungsi dari lima kekuatan kompetitif dan lingkungan internal ini dimungkinkan untuk dikendalikan oleh para pelaku bisnis, sehingga dapat diarahkan sesuai dengan keinginan perusahaan dalam upaya meningkatkan pertumbuhan usaha. Menurut Suprapto (dalam Setiawan, 2010) pertumbuhan perusahaan adalah peningkatan ukuran usaha dan adanya ekspansi operasi perusahaan melalui pengelolaan kekuatan yang ada dalam perusahaan dalam kurun waktu tertentu

METODE PENELITIAN
A.   Populasi dan Sampel
            Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelaku usaha di Sentra Kerajinan Rotan di Amuntai HSU Kalimantan Selatan, Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah jenis penelitian alitatif diskriptif. Tipe penelitian diskriptif merupakan metode penelitian yang memaparkan atau menjelaskan bagaimana karakteristik kewirausahaan dan lingkungan bisnis Industri kecil dan Rumah Tangga kerajinan rotan di kota Amuntai sebagai faktor penentu Perkembangan usaha mereka.
            Sampel dalam penelitian ini diambil dengan cara Purposive sampling dan Snowbal sampling. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasiDalam penelitian ini penulis berusaha menganalisis karakteristik kewirausahaan para pemilik  industri kecil dan rumah tangga kerajinan rotan Amuntai Kalimantan Selatan dalam mengelola usaha kerajinan rotan dan menganalisis serta memaparkan gambaran mengenai lingkungan bisnis di sentra kerajinan rotan di Amuntai baik secara internal maupun eksternal.
B.   Peralatan Analisis
Lokasi penelitian ini dilakukan di Kota Amuntai yang merupakan ibukota kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan. Objek penelitian ini adalah Sentra Kerajinan Rotan. Anyaman rotan yang bertempat di kecamatan Haur Gading, Lampit rotan di kecamatan Amuntai Tengah dan mebel rotan di kecamatan Haur Gading. Data dianalisis menggunakan Analisis SWOT.

HASIL
            Penelitian ini akan mendeskripsikan temuan penelitian dalam tiga bagian, yaitu yang pertama adalah profil perajin dan sejarah perkembangan usaha, karakteristik kewirausahaanyang dimiliki oleh perajin dalam pertumbuhan industri serta kondisi dan peran lingkungan bisnis dalam pertumbuhan industri perajin baik secara internal maupun eksternal. Jenis industri rotan yang menjadi obyek dalam penelitian ini meliputi tiga jenis yaitu industry mebel rotan, anyaman rotan Amuntai dan lampit rotan Amuntai. Wawancara dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 6 perajin. Adapun profil dan sejarah perkembangan usaha dari 6 informan diuraikan berikut ini.
            Informan pertama merupakan perajin mebel rotan dengan skala industri kecil. Pertumbuhan industri nya mulai berkembang sejak tahun 1992-1995, tahun 1995-1998 mulai mengalami krisis dan terpaksa harus memberhentikan beberapa pekerja sehingga mengalami penurunan produksi dari 20 set/minggu saat ini hanya mencapai 7 set/minggu. Untuk saat ini beliau memiliki 5 orang pekerja dengan hasil produk berupa mebel rotan (aneka kursi dan meja rotan) dan rata-rata harga sekitar Rp. 200.000 s/d Rp. 400.000 per item. Produk yang dihasilkan dipasarkan pada Lokal Amuntai dan Lokal Kalimantan dengan cara dijual sendiri maupun melalui pengumpul/pedagang perantara.
            Informan kedua merupakan perajin mebel rotan pada skala mikro. Pertumbuhan industrinya mulai berkembang sejak tahun 1986-1995, tahun 1995 mulai mengalami krisis dan mengalami penurunan produksi dari 10-15 set/minggu saat ini hanya mencapai 3-4 set/minggu. Untuk saat ini beliau memiliki 3 orang pekerja termasuk pemilik dengan hasil produk berupa mebel dan furniture Rotan lainnya dengan harga jual berkisar Rp 20.000 s/d Rp 30.000 per item. Produk yang dihasilkan dipasarkan pada area pemasaran meliputi lokal Amuntai dan regional Kalimantan.
            Informan ketiga merupakan perajin anyaman rotan pada skala mikro. Informan ini memulai usaha sejak tahun 1997, namun pertumbuhan positif terlihat sejak tahun 2010-2012 dengan produksi yang meningkat dari 3-5 kodi/minggu saat ini mampu menghasilkan +- 15 kodi / minggu. Saat ini usaha ini memiliki 1 pegawai tetap dan 3-4 orang tenaga kerja tidak tetap dengan produk yang dihasilkan berupa adalah aneka anyaman rotan dengan harga produk berkisar Rp.80.000 – Rp.200.000 per item. Produk ini dipasarkan pada area pemasaran meliputi lokal Amuntai dan regional Kalimantan yang dijual sendiri maupun melalui pengumpul/pedagang perantara Informan keempat dan kelima merupakan perajin anyaman rotan pada skala mikro. Usaha ini hanya mampu untuk bertahan sebagai peyangga ekonomi keluarga. Tiap minggunya hanya menghasilkan 2-10 kodi. Usaha ini dijalankan oleh keluarga inti yang berjumlah 2-5 pekerja. Produk yang dihasilkan berupa Anyaman rotan (Keranjang Parcel) dan dipasarkan pada local Amuntai dan lokal Kalimantan melalui pengumpul/pedagang.

PEMBAHASAN      
            Dalam analisis SWOT Pada Industri Mebel dan Anyaman Rotan Amuntai, karakteristik kewirausahaan pelaku industri lampit dan lingkungan bisnis internal industri lampit Rotan Amuntai mempunyai beberapa kekuatan (strength) yaitu sikap kewirausahaan yang menjadi kekuatan pada diri pelaku industri mebel rotan Amuntai yang meliputi keorisinilan dalam inovasi produk, pengambilan risiko untuk melakukan diversifikasi produk dan kepemimpinan dalam membangun hubungan yang harmonis dengan karyawan. Sedangkan lingkungan bisnis internal yang menjadi kekuatan pada industri mebel dan anyaman rotan Amuntai adalah tenaga kerja, karakteristik kewirausahaan dan lingkungan bisnis internal industri mebel.
Anyaman Rotan Amuntai mempunyai beberapa kelemahan (weakness) yaitu sikap kewirausahaan yang menjadi kelemahan pada diri pelaku industri mebel dan anyaman rotan Amuntai antara lain adalah orientasi tugas dan hasil yang berorientasi pada pencapaian laba yang maksimal, sikap yang energik dan inisiatif, kepemimpinan yang mengarah pada menyusun sasaran usaha dan mencapainya serta mampu memotivasi karyawan untuk memberikan ide/saran dalam usahanya dan memiliki pandangan masa depan. Sedangkan lingkungan bisnis eksternal yang menjadi kelemahan pada industri mebel dan anyaman rotan Amuntai yakni orientasi tugas dan hasil untuk mencapai laba maksimal, kepemimpinan yang membangun hubungan yang harmonis pada karyawan, dan memiliki orientasi ke masa depan. Sedangkan lingkungan bisnis internal yang menjadi kekuatan pada industri lampit rotan Amuntai yakni ketersediaan modal, penggunaan mesin dalam produksi dan tenaga kerja.
Adapun beberapa peluang (oppurtunities) yang teridentifikasi dalam lingkungan bisnis internal dalam industri mebel dan anyaman rotan Amuntai yaitu perwakilan pemerintah, lembaga keuangan, pasar. Adapun ancaman yang ditimbulkan dari lingkungan eksternal industri mebel dan anyaman rotan

KETERBATASAN PENELITIAN

            Berdasarkan hasil wawancara dengan Bidang UKM Dikuperindag HSU tahun 2011 telah mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi oleh para perajin rotan di Amuntai. Kendala-kendala tersebut antara lain adalah lemahnya tingkat SDM para perajin dan lemahnya organisasi serta kesatuan para perajin rotan sehingga terkesan berjalan sendiri-sendiri. Selain itu, para perajin masih belum mampu memanfaatkan kemajuan informasi dan teknologi khususnya dalam hal penggunaan media teknologi untuk memasarkan produk yang mereka miliki serta teknologi dalam penggunaan peralatan produksi yang modern.
Lemahnya daya saing produk yang dihasilkan oleh para perajin sehingga produk yang dihasilkan terkesan monoton (kurang kreatifitas atau diversifikasi produk), sehingga desain dan sentuhan teknologi yang digunakan sulit mengakses pasar regional maupun internasional. Kelemahan lainnya adalah kesulitan dalam mengakses kebutuhan bahan baku rotan sehingga menyebabkan banyak perajin yang gulung tikar dan beralih untuk menggunakan bahan baku lain seperti bambu,
kayu, aluminium dan lain sebagainya. Para perajin rotan juga mengeluhkan kurangnya modal yang mereka miliki, para perajin hanya tergantung pada modal internal bahkan kebanyakan dari perajin meminjam dana pada pengumpul (pembeli produk) sehingga harga ditentukan oleh pengumpul disebabkan tidak dapat mengakses kredit dari bank maupun lembaga keuangan lainnya dengan banyaknya persyaratan yang ditentukan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Karakteristik kewirausahaan yang dimiliki oleh pelaku industri mebel, anyaman dan lampit rotan di Sentra kerajinan rotan Amuntai memiliki kecenderungan yang sama yakni mereka memiliki sikap keorisinilan dalam inovasi produk, pengambilan risiko untuk melakukan diversifikasi produk dan kepemimpinan dalam membangun hubungan yang harmonis dengan karyawan namun belum memiliki sikap orientasi tugas dan hasil terhadap profit yang maksimal hanya sebatas pemenuhan kebutuhan sehari-hari, pengambilan risiko, pandangan akan masa depan dan belum memiliki sikap kepemimpinan yang mengarah pada tujuan dan melibatkan karyawan untuk memberikan saran/ide pada usahanya.
Karakteristik kewirausahaan perajin lampit yaitu memiliki sikap orientasi tugas dan hasil pada profit yang maksimal tidak hanya pada orientasi bertahan hidup serta pandangan ke masa depan. Namun belum memiliki sikap kepemimpinan yang mengarah pada tujuan dan melibatkan karyawan untuk memberikan saran/ide pada usahanya dan sikap pengambilan risiko dalam hal keuangan. Lingkungan internal menjadi faktor yang menghambat pertumbuhan industri mebel dan anyaman rotan. Lingkungan internal bisnis yang menghambat pertumbuhan industri kerajinan rotan di Amuntai adalah supplai bahan baku dan kestabilan harga bahan baku modal, dan penggunaan peralatan produksi.
Kekuatan lingkungan bisnis eksternal yang mengancam pertumbuhan industri mebel dan anyaman rotan di Amuntai yaitu Pemasok, Produk substitusi, Pendatang baru, Pesaing dan Perantara. Sedangkan kekuatan lingkungan bisnis eksternal yang memberikan peluang pada pertumbuhan industri mebel dan anyaman rotan yaitu faktor Perwakilan pemerintah dan lembaga keuangan, Pasar, pembeli atau konsumen akhir. Lingkungan eksternal bisnis lampit rotan yang mengancam pertumbuhan dalam industry lampit rotan di Amuntai yaitu pemasok, pesaing , produk substitusi. Kekuatan lingkungan bisnis eksternal yang memberikan peluang pada pertumbuhan industri lampit rotan yaitu Pembeli,
Peran pemerintah, dan lembaga keuangan. Perajin rotan masih belum dapat mengidentifikasi kekuatan ancaman dan peluang dari lingkungan eksternal bisnis. Sehingga masih belum mampu memanfaatkan beberapa peluang yang ada dan menghindari atau mengantisipasi ancaman yang datang dari lingkungan eksternal.
Saran yang dapat diajukan adalah bahwa Pemerintah Daerah/Dikuperindag Amuntai hendaknya mampu mengindentifikasi karakter dari UMKM sentra kerajinan rotan untuk melihat permasalahan yang ada dan mencari solusi yang tepat. Seperti melakukan follow up dan pendampingan terhadap perlatihan pengembangan SDM yang sudah diberikan untuk meningkatkan karakteristik kewirausahaan perajin.

DAFTAR PUSTAKA
Faisal. 2002. Kalau Begitu, Saya Berani Berwirausaha. Jakarta: Bina Rena Pariwara.

Robbin, Stephen P. 1994. Organization Theory, Structure, Design, and Application.           Third Edition. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Saiman, Leonardo. 2009. Kewirausahaan, Teori, Praktik dan Kasus-Kasus. Jakarta: Salemba Empat.

Setiawan, Peter. 2010. Entrepreneurial Orientation pada Industri Kreatif di Jawa    Timur danPengaruhnya terhadap Pertumbuhan Perusahaan. Skripsi.     Universitas Kristen Petra. http://digilib.petra.ac.id/viewer...industri_kreatif-chapter2.pdf. 13    Maret 2012.


Stoner, James A.F. 1996. Manajemen (Terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kamis, 09 Januari 2014

Materi Ilmu Usaha Tani



KATA PENGANTAR
          Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya jualah maka kami dapat menyelesaikan laporan ini. seiring dengan selesainya pengambilan sampel/ hasil responden.  kami mengucapkan terima kasih dan penghormatan kepada Ibu Rani, SP.MP sebagai pengampuh mata kuliah Ilmu Usaha Tani yang telah sudi meluangkan waktu guna membimbing dan memberikan ilmu kepada kami
          kami menyadari sepenuhnya bahwa hasil dari pengambilan sampel/ responden masih jauh dari kesempurnaan, namun kami berharap saran dan kritikan yang sifatnya membangun guna kesempurnaan laporan ini sangat kami harapkan demi kepentingan orang banyak dan dapat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkannya

                                                          konawe, Juni 2010

                                                                 Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
1.2   Tujuan
1.3   Manfaat

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Pengeluaran
2.1.1 Biaya tidak tetap
2.1.2 Biaya tetap
2.2 Penerimaan
2.2.1 Hasil penjualan produksi
2.3 Pendapatan
2.3.1 Gross input
2.3.2 Gross Margin
2.3.3 NFI
2.4 Uji Teknologi Baru

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

Lampiran-lampiran
……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..


……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..

……………………………………………..

……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..

……………………………………………..

……………………………………………..
……………………………………………..

……………………………………………..
1
2
3

3
4
4

5


5
5
6
7
7
10
10
11
12
13

16

16
17

18








                             BAB I PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang

Upaya pembangunan pertanian yang  sedang dilaksanakan ditujukan kepada pencapaian swasembada pangan khususnya disektor pertanian dan perikanan yang diarahkan untuk mewujudkan sistim pertanian yang tangguh sehingga tercapai taraf hidup dan kesejatraan petani.
Peran sector perikanan dalam menunjang devisa Negara sangat penting sebab beberapa komoditi perikanan khususnya dibidang air tawar memiliki devisa yang sangat tinggi. sehingga kebijaksanaan pembangunan khususnya dibidang perikanan akan terus dilanjutkan dan diarahkan menuju perikanan yang tangguh dengan tujuan meningkatkan hasil-hasil produksi dari sector perikanan tersebut, guna memenuhi kebutuhan pangan dan ekspor non migas yang diharfapkan mampu meningkatkan pendapatan baik masyarakat, daerah maupun bagi Negara.
Upaya ini dilakukan dengan memacu peningkatan produktivitas dengan meliputi intensifikasi, ekstensivikasi, rehabilitasi  serta disertivikasi secara terpadu dan serasi dengan tetap memelihara kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
Dewasa ini khususnya di sub sector peternakan, pemerintah berusaha untuk meningkatkan produksi semaksimal mungkin. tentu saja dalam hal ini termasuk usaha budidaya ayam potong, di Indonesia akan meningkatkan devisa Negara. peningkatan produksi ayam potong di Indonesia akan meningkatkan devisa Negara dari sector non migas, sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat pedesaan. untuk itu pemerintah telah malakukan usaha-usaha ekstensifikasi sarta di versifikasi peternakan.
salah  satu komoditas tanaman pertanian yang mendapat perhatian dari berbagai pihak adalah budidaya nanas, dinas pertanian manjadikan tanaman nanas sebagai komoditas yang diprioritaskan karena nanas merupakan salah satu sumber hasil pertanian non migas  yang dapat dijadikan bahan olahan seperti slai nanas, sirup nanas dll.
Pada umumnya dalam berusaha tani, petani dengan lahan yang terbatas kebanyakan berusaha lebih dari satu komoditi sehingga tingkat penggunaan factor-faktor produksi akan bervariasi pula, hal ini berarti bahwa dalam rangkah melaksanakan kegiatan intensifikasi diperlukan informasi mengenai penggunaan teknologi pada usaha tani sesuai luas lahan yang diusahakan.
Bertolak dari uraian tersebut, melalui responden maka kami tertarik untuk meneliti tentang tingkat keberhasilan petani dalam memasarkan  hasil perikanan dan pertanian di Desa Sonay Kecamatan Lambuya kabupaten Konawe.

1.2        Tujuan

Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk menambah wawasan kami di bidang perikanan dan pertanian khususnya pada peluang pasar budidaya ikan mas, budidaya ayam potong serta budidaya tanaman nenas sehingga kita dapat mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan petani dalam mengembangkan usaha dibaidang perikanan dan pertanian

1.3         Manfaat


manfaat dari penyusunan laporan ini adalah untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan para petani atau calon petani yang bergerak pada masing-masing sector atau keseluruhan sub sistim, agar nantinya perkembangan perikanan dan pertanian khususnya budidaya ikan, budidaya ayam potong serta budidaya tanaman nanas semakin tumbuh pesat.

(untuk lebih jelas analisa usaha, dapat menghubungi pemilik akun)

BUDIDAYA TANAMAN PALEM
DI KELURAHAN LALOSABILA, KEC. WAWOTOBI, KABUPATEN KONAWE



 















OLEH
Syam smart







JURUSAN AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN & HORTIKULTURA
SMK-SPP NEGERI WAWOTOBI
KONAWE
2014 





PENDAHULUAN
Latar Belakang
Palem merupakan salah satu keluarga tanaman yang jenisnya sangat banyak. Sebagian anggota kerabatnya sangat bermanfaat bagi kehidupann manusia, di antaranya lontar,kurma,nipah,sagu, dan kelapa.Sementara sebagiannya lagi memiliki penampilan yang indah mempesona sehingga sering di jadikan tanaman hias,misalnya palem raja,palem botol,palem merah,palem ekor tupai,palem phoenix,palem metalik,dan palem wregu.
Banyak kalangan menyukai palem sebagai tanaman hias karena perawatannya cukup mudah,sosoknya anggun dan indah,daunnya selalu hijau sepanjang tahun,dan jenisnya amat banyak.
Boom tanaman palem yang tengah berlangsung saat ini di Indonesia membuat permintaan palem pun meningkat. Untuk mengimbanginya maka perlu adanya peningkatan penbudidayaan palem.Keanggunan dan keindahan palem memang memberikan pesona tersendiri.Karateristik ini jarang bahkan tidak dimiliki jenis tanaman lain.
Berbeda dengan tanaman produktif seperti palawija atau sayuran yang diharapkan hasilnya,palem hanya di harapkan  penampilan keindahannya,oleh sebab itu,kita harus berusaha mendapatkan  keindahan itu selama mungkin dan terus berusaha mempertahankannya.Palem memungkinkan kita memperoleh keindahan tanaman dalam waktu yang lama.lagi pula karena pertumbuhannya lambat,kita tidak perlu repot-repot memangkas atau mengubah tatanan penanaman.
Ditilik dari umurnya,barangkali sangat jarang tanaman  hias berumur panjang di biarkan tumbuh bebas.Umumnya tanaman hias hanya berumur semusin sampai beberapa tahun saja,setelah itu tanaman harus di remajakan ,misalnya palem.Oleh karena itu,menanam palem berarti menikmati keindahannya dalam waktu yang panjang.
Melihat begitu banyak kelebihan palem sebagai tanaman hias tidak heran kalau semakin banyak orang yang “jatuh cinta”kepadanya.Sebagai pecinta keindahan lingkungan maka palem dapat merupakan “kekasih”yang akan menyemarakan  keindahan lingkungan kita.
Tanaman hias memang selalu menyemarakan dan menyegarkan kehidupan manusia. tak heran jika banyak orang sengaja menanamnya. salah satu jenis tanaman  hias yang 


paling disukai dan banyak penggemarnya adalan palem.
 1. SEJARAH SINGKAT
 Palem adalah tanaman hias yang    bersifat kosmopolitan, keberadaannya  ditemukan di daerah tropis dan  subtropis, di dataran rendah dan tinggi,  di pegunungan dan di pantai, di tanah  yang subur dan gersang.

 2. JENIS TANAMAN
 Klasifikasi botani tanaman palem adalah   sebagai berikut:
·         Divisi : Spermatophyta
·         Sub divisi : Angiospermae
·         Kelas : Monocotyledonae
·         Keluarga : Aracaceae (Palmaceae)
·         Genus : Archontophoenix,Mascarena, Cyrtostachys, Roystonea
·         Spesies : Ravenea sp. (palem putri); Mascarena lagenicaulis atau Hyophorbe lagenicaulis (palem botol), Cyrtostachys lakka (palem merah) Roystonea sp. (palem raja)

  1. Palem putri : Sekilas bentuknya seperti palem raja, daun yang lebih lebar dan warna lebih hijau. Tanaman berasal dari Madagaskar, banyak dimanfaatkan sebagai penghias pinggir jalan atau tanaman pot.
  2. Palem botol : Batang bawahnya menggelembung dan batang atas menyempit sehingga mirip bentuk botol. Pertumbuhan lambat, tajuknya sempit sehingga tidak memerlukan tempat yang luas.
  3. Palem merah : Disebut juga sebagai pinang merah dan merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh di hutan rawa dataran rendah sampai 500 m dpl. Keistimewaannya terletak pada pelepah dan tulang daun yang merah menyala. Untuk mempertahankan warna merah, palem ini ditanam di tempat yang terik.
  4. Palem raja : Dikenal dengan Royal palm karena bentuknya yang menawan dengan batang yang kokoh, daun yang hijau dan segar. Pelepah yang rontok akan meninggalkan bekas lingkaran atau garis berwarna abu-abu putih. Tinggi tanaman mencapai 25- 30 m. Jenis yang banyak ditanam adalah palem raja Kuba. Spesies palem raja yang dikenal adalah Roystonea regia, R. buringuena dan R. elata.